Webinar Series 1,2 dan 3

          “Dunia sedang dilanda krisis lingkungan”, dewasa ini pernyataan tersebut semakin tidak terbantahkan. Berbagai bencana ekologis yang terus terjadi adalah fakta-fakta yang lebih dari cukup untuk mengkonfirmasi pernyataan tersebut. Mulai dari tanah longsor, banjir bandang, banjir rob, asap dari kebakaran hutan dan lahan, dan berbagai bencana lainnya, datang silih berganti di berbagai tempat. Menimbulkan kerugian material dan immaterial yang tak terhingga. Dikatakan bencana ekologis, sebab bencana-bencana tersebut tidak terlepas dari sistem sosial, hubungan masyarakat dengan lingkungan, atau cara-cara manusia dalam memanfaatkan lingkungan fisik (biotik dan abiotik).

          Salah satu isu yang paling disorototi adalah perubahan iklim, yang oleh sebagian elemen telah dinaikkan level penilaiannya menjadi krisis iklim. Bukan hal yang berlebihan jika melihat fakta-fakta yang terjadi, mulai dari musim yang semakin tidak menentu, durasi musim kemarau yang semakin panjang, suhu bumi yang semakin panas, permukaan laut yang semakin naik dan berbagai fakta lainnya. Perubahan iklim telah nyata bahkan dekat di teras rumah kita. Para ilmuwan maupun aktifis lingkungan memberi tahu bahwa harus ada cara yang lebih maju dan terorganisir untuk menekan perubahan iklim yang paling ekstrem. Berbagai fakta yang ada dan tesis yang berkembang seharusnya menjadi momentum terbangunnya aksi iklim yang terkoordinasi, meluas, dan komprehensif. Di Kalimantan, pengelolaan lahan gambut (peatland) merupakan salah satu yang menjadi sorotan dalam kaitannya dengan perubahan iklim. Perubahan bentang lahan gambut secara ekstrem tidak hanya membawa dampak bagi kehidupan masyarakat yang telah lama bertempat tinggal dan mengembangkan kebudayaan meraka di lahan-lahan ini sejak berabad-abad yang lalu.

          Pada skala lebih besar dan luas, kebakaran lahan gambut telah memperparah serangan kabut asap ke kawasan lain, dan berdampak pada pamanasan global dan perubahan iklim secara ekstrem. Namun hari ini masih banyak kabar buruk terkait dengan laju pembukaan hutan dan konversi lahan gambut untuk perkebunan skala besar. Selain itu, izin pembongkaran tanah untuk mendapatkan sumber energi fosil masih terus bertambah dan meluas. Sumbangsih dari aktifitas korporasi untuk kehidupan masyarakat masih tidak sebanding dengan dampak kerusakan yang ditimbulkannya. Di sisi lain, kampanye tentang kerusakan ekosistem dan dampaknya hingga saat ini masih didominasi oleh aktifis dan organisasi lingkungan hidup. Olehnya, diperlukan gerakan yang lebih luas yang dikonstruksi oleh  pemahaman yang mendalam di berbagai lapisan masyakat termasuk akademisi, komunitas agama, kalangan professional, kelompok feminist, petani, nelayan, masyarakat adat, kelompok pemuda dan seluruh elemen masyarakat lainnya, untuk ikut serta bergandengan tangan melakukan langkah strategis menghentikan laju kerusakan lingkungan dan mengupayakan langkah-langkah perbaikan.

          Perjanjian Iklim Paris pada tahun 2015 menyerukan tindakan untuk mengurangi emisi di seluruh dunia. Hampir seluruh negara di dunia berkomitmen untuk mengurangi emisi dan menjaga kenaikan suhu di bawah 2° C (3,6° F). Tentu saja tidak cukup hanya dengan komitmen atau perjanjian Iklim, diperlukan aktualiasi yang dimulai dengan terbangunnya kesadaran dan bangkitnya gerakan sosial yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Terkhusus untuk civitas akademika, tugas pokoknya adalah menemukan, menguatkan dan mempromosikan tesis-tesis tentang pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan. Terkait dengan gambut, hingga hari ini belum ditemukan kesepahaman pandangan antar berbagai elemen tentang model pengelolaan yang berkelanjutan. Hal tersebut berimplikasi pada dampak pengelolaan destruktif yang masih sangat massif kita jumpai hari ini. Webinar ini adalah satu upaya kecil yang dilakukan oleh Prodi Sosiologi FISIP ULM untuk berkontribusi pada terwujudnya pengelolaan lahan gambut secara berkelanjutan. Melalui webinar ini dihasilkan titik temu pemikiran tentang peran sains sosial dan peran civitas akademika, serta terbangun komitmen dan sinergi berbagai elemen untuk bergerak bersama melakukan tindakan nyata dalam pemulihan lingkungan.

          Webinar seri pertama ini mempunyai hasil yang dicapai  adalah Terbangunnya pemahaman akan pentingnya peran dan konstribusi sains sosial, akademisi, peneliti, aktifis dan organisasi lingkungan serta masyarakat gambut sebagai salah satu benteng pertahanan dalam menekan laju kerusakan lahan gambut dan perubahan iklim yang ekstrem.

 

Webinar seri pertama (30 Noverber 2020)

          Dalam kegiatan peserta webinar ini terbagi kedalam 3 (tiga) series yang ketiga serie tersebut mempunyai keterhubungan dalam pembahasannya. Pembahasan yang sedang hangat-hangatnya pada kondisi sekarang ternyata mendapat respon positif dari peserta yang mengikutinya. Hal ini dapat terlihat dari beberapa elemen pada peserta webinar yang diperoleh dari form pendaftaran peserta webinar serie pertama sampai seri ketiga. Dilihat dari peserta seri pertama jumlah peserta yang mebdaftar berjumlah 344 orang dari beberapa elemen; 1) Dosen (internal dan eksternal Universitas Lambung Mangkurat) 2) Mahasiswa (internal dan eksternal Universitas Lambung Mangkurat) 3) Perwakilan Badan Restorasi Gambut 4) NGO Lingkungan Hidup (WALHI, AMAN, dan Perisai) 5) Lembaga Riset Non-Perguruan Tinggi, 6) Aktifis Lingkungan 7) Siswa SMA/SMK ,8) Dan lain-lain.

          Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc. (Rektor Universitas Lambung Mangkurat) didapuk sebagai Keynote Speaker pada webibnar ini. Judul materi yang diangkat oleh Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc. adalah “The Role of Wetland Ecosystem Conservation in Supporting Sustainable Development”, dengan pokok-pokok materi, sebagai berikut:

a) Habitat of wetland and its ecological interest

b) Main dimension of wetland studies

c) The threat to wetland ecosystem

d) Example from ULM practices:

  • Collaboration between ULM and SBI
  • Bekantan Research Station
  • Mangrove Ecosystem Restoration

e) Conclusion and Remark

Tampil sebagai pembicara pertama adalah Micah Fisher, Ph.D. Adapun judul materi yang diangkat adalah “The Misinterpreted Forest”, dengan pokok-pokok materi, sebagai berikut:

a) Asal ilmu kehutanan dan kehutanan Negara

b) Teori tentang politik kehutanan

c) Mengangkat definisi baru dari bawah; Tipologi baru hutan Indonesia?

d) Studi kasus

e) Tantangan ilmu sosial di masa depan

Selanjutnya, tampil sebagai pembicara kedua adalah Kiki Taufik dari Greenpeace indonesia. Adapun judul materi yang diangkat adalah “The Reality of Present Peatland  and Climate”, dengan pokok-pokok materi, sebagai berikut:

a) Fakta tentang gambut di Indonesia

b) Fungsi ekologi dan hidrologi gambut

c) Status kerusakan gambut

d) Tentang perubahan iklim

e) Ongkos perubahan iklim

f) Tentang kebakaran hutan dan lahan di Indonesia

g) Tentang kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia dan Kalimantan

h) Kesimpulan

Webinar seri kedua (8 Desember 2020)

          Webinar Seri 2 ini adalah rangkaian dari 3 (tiga) seri webinar yang dilaksanakan oleh Prodi Sosiologi FISIP ULM sepanjang bulan November – Desember 2020, dengan tema-tema yang terstruktur dari seri 1 – 3. Seri 2 ini mengangkat tema “Problematika Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan”. Adapun jumlah peserta yang mengisi daftar hadir yang di-share oleh panitia di akhir-akhir kegiatan adalah 293 orang. Daftar hadir, terlampir. Jumlah peserta tersebut melampaui target peserta yang ditetapkan sebelum kegiatan, yakni 150 orang. Peserta yang mengikuti kegiatan ini merupakan keterwakilan dari elemen: 1) Dosen (internal dan eksternal Universitas Lambung Mangkurat, 2) Mahasiswa (internal dan eksternal Universitas Lambung Mangkurat) 3) Perwakilan Badan Restorasi Gambut, 4) NGO Lingkungan Hidup (WALHI, AMAN, dan Perisai) 5) Lembaga Riset Non-Perguruan Tinggi 6) Aktifis Lingkungan 7) Siswa SMA/SMK

          Webinar Seri 2 ini menglamai kendala untuk dapat menghadirkan Dr.Alue Dohong, dan seknario pada flyer yang sudah disosialisasikan agak berbeda dalam kegiatannya. Namun tidak mengendorkan antusias peserta yang mengikuti webinar seri kedua dengan  menghadirkan 3 Speaker, yakni Nola Fibriyani Bte Salman (Lecturer, Muhyiddin Center (MC) Singapore), Drs. H. Setia Budhi, M.Si., Ph.D. (Etnografer Dayak dari Universitas Lambung Mangkurat) dan Brurce Mecca, Ph.D. (Assistant Analyst – Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia). Presentase materi dan diskusi ini dipandu oleh Arif Rahman Hakim, S.S., M.A. (Dosen Prodi Sosiologi FISIP ULM), yang bertindak sebagai moderator. Tampil sebagai pembicara pertama adalah Nola Fibriyani Bte Salman. Adapun judul materi yang diangkat adalah “Malay Women Protecting the Environment; Experience from Singapore”, dengan pokok-pokok materi, sebagai berikut:

a) Jati diri perempuan Melayu

b) Kepribadian perempuan Melayu

c) Perempuan dan pendidikan

d) Perempuan dalam keluarga

e) Pernikahan

f) Pengasuhan anak

g) Perempuan dalam pekerjaan

h) Perempuan dalam lingkungan fisik

Selanjutnya, tampil sebagai pembicara kedua adalah Setia Budhi, Ph.D. Adapun judul materi yang diangkat adalah “Dayak Bakumpai dan Dunia Gambutnya”, dengan pokok-pokok materi, sebagai berikut:

a) Cerita Delta Borneo

b) Siapa Dayak Bakumpai?

c) Kawasan peradaban Dayak Bakumpai

d) Kebudayaan bertani

e) Sungai, Anjir dan Hutan Gambut

f) Kesimpulan

Selanjutnya, tampil sebagai pembicara ketiga adalah Brurce Mecca, Ph.D. Adapun judul materi yang diangkat adalah “The Role of Finance in Sustainable Peatland Management”, dengan pokok-pokok materi, sebagai berikut:

a) Background

b) Objective

c) Carbon market policy in Indonesia

d) Sustainable peatland management in the age of low-carbon economy

e) Avenue for environmental justice

f) Conclusion

g) References

Dari rangkain acara webinar kedua tersebut Secara lengkap pelaksanaan kegiatannya dapat dilihat pada rekaman kegiatan di channel youtube Sosiologi ULM. Link youtube: https://www.youtube.com/watch?v=4fSLhmNx1lU

 

Webinar seri ketiga (23 desember 2020)

          Webinar Seri 3 ini adalah rangkaian terakhir dari 3 (tiga) seri webinar yang dilaksanakan oleh Prodi Sosiologi FISIP ULM sepanjang bulan November – Desember 2020, dengan tema-tema yang terstruktur dari seri 1 – 3. Seri 3 ini mengangkat tema “Belajar Pada Masyarakat Lokal Untuk Keberlanjutan Gambut”. Adapun deskripsi pelaksanaannya, sebagai berikut:

          Jumlah peserta yang melakukan registrasi sebelum kegiatan adalah 356 orang. Daftar peserta yang registrasi. Peserta yang melakukan registrasi berasal dari: 1) Mahasiswa Prodi Sosiologi FISIP ULM, 2) Mahasiswa Prodi PGSD FKIP ULM, 3) Mahasiswa Prodi Sosiologi Agama IAIN Pare-pare, 4) Buruh Lepas, 5) STAI YPIQ Bau-bau, 6) Prodi Ilmu Hukum ULM, 7) Mahasiswa Pendidikan Sosiologi FKIP ULM, 8) Universitas Lambung Mangkurat ,9) Umum, 10) Pekerja 11) AGRA, 12) Unhas, 13) Mahasiswa Prodi Ilmu Pertanian ULM, 14) Dosen Prodi Sosiologi Agama IAIN Pare-pare, 15) Pengurus APPBIPA Cabang Kalsel, 16) Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi FISIP ULM, 17) Manajemen Trisakti Jakarta, 18) Mahasiswa S3 Ilmu Pertanian ULM, 19) Institute Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri, 20) Mahasiswa Prodi Administrasi Bisnis FISIP ULM, 21) Mahasiswa Universitas Palangka Raya, 22) Sosiologi, Universitas Nusa Cendana, 23) Individu, 24) Dosen Prodi Pendidikan Sosiologi FKIP ULM, 25) Dosen Prodi Sosiologi FISIP ULM.

          Dilihat dari beberapa elemen yang berpartisipasi pada seri ketiga ini sangat beragam dari seri sebelumnya. Hal ini dikarenakan pemateri yang luar biasa dan penutup webinar diakhir tahun. Webinar Seri 3 ini menghadirkan 3 Speaker, yakni Ismar Hamid, S.S., M.Si. (Dosen Prodi Sosiologi FISIP Universitas Lambung Mangkurat), Kurniawan Sabar, M.Ikom. (Direktur Institute for National and Democracy Studies (INDIES)) dan Kyeyune Ahmed, Ph.D. (Islamic University in Uganda). Presentase materi dan diskusi ini dipandu oleh Sri Hidayah, M.Sc. (Dosen Prodi Sosiologi FISIP ULM), yang bertindak sebagai moderator. Tampil sebagai pembicara pertama adalah Ismar Hamid, S.S., M.Si. Adapun judul materi yang diangkat adalah “Problematika Paradigmatik Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup”, dengan pokok-pokok materi, sebagai berikut:

a) Etika Lingkungan

  • Antroposentrisme
  • Ekosentrisme
  • b) Paradigma Pengelolaan SDA
  • Paradigma Konseravsionistik
  • Paradigma Developmentalistik
  • Paradigma Eko – Populis

b) Tinjauan Kritis Tentang Sustainable Development

c) Studi Kasus:

  • Praktek Perladangan Pindah-pindah vs Perkebunan Sawit
  • Pembangunan Kota Banjarmasin Dulu dan Sekarang

d) Kesimpulan

e) Rekomendasi

Selanjutnya, tampil sebagai pembicara kedua adalah Kurniawan Sabar,

          M.Ikom. Adapun judul materi yang diangkat adalah “Mempertahankan Hidup dan Merawat Gambut; Pengelolaan Gambut Berbasis Masyarakat di Mantangai Hulu untuk Menghentikan Praktik Perampasan Tanah”, dengan pokok-pokok materi, sebagai berikut:

  1. Profil Mentangai Hulu
  2. Berebut Bisnis Menuai Kerusakan di Lahan Gambut
  3. Merawat dan Mengelola Gambut untuk Generasi Mendatang
  4. Menanam Karet dan Mengolah Rotan
  5. Pengelolaan Ladang Produksi Pangan
  6. Gerakan Masyarakat Lokal Melanjutkan Keberhasilan

          Selanjutnya, tampil sebagai pembicara ketiga adalah Kyeyune Ahmed, Ph.D. Adapun judul materi yang diangkat adalah “Climate Change, the Movement for Environmental Activist and the Role of Social Scientist in Uganda”, dengan pokok-pokok materi, sebagai berikut:

  1. Introduction and Questions
  2. What is Role of the Movement for Environmental Activist?
  3. Challenges to Movement for Environmental Activist?
  4. Who is Social Scientist?
  5. A Social Scientist as a People’s Guardian’ John Raven
  6. Funding Social Sciences
  7. What should be the role of social scientists?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *